ANTERONESIA.ID GORONTALO – Wakil Ketua I DPRD Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa, menyoroti kondisi petani jagung di tengah meningkatnya volume ekspor komoditas tersebut. Menurut data dari Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Services Technology), selama Januari dan Februari 2025, sekitar 41.700 ton jagung telah dijual diluar Gorontalo dengan nilai ekonomi mencapai Rp 302,5 miliar.
Meski data tersebut terlihat membanggakan, Ridwan mengungkapkan bahwa petani jagung di Gorontalo belum sepenuhnya menikmati manfaat dari penjualan tersebut.
“Harga jagung di tingkat petani dibawah patokan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 5.500 per kilogram. Belum lagi praktik tengkulak yang ikut memainkan harga,” ujarnya.
Ridwan menegaskan, kondisi ini membuat petani jagung tetap rentan terhadap kemiskinan.
“Penjualan jagung mungkin meningkat, tetapi kesejahteraan petani belum terjamin. Hal ini menyulitkan upaya pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan di Gorontalo,” tambahnya.
Politisi NasDem itu mempertanyakan peran pemerintah dalam melindungi petani jagung. “Di mana kehadiran pemerintah saat petani terus berada dalam kondisi rentan? Kebijakan dan intervensi yang konkret sangat dibutuhkan untuk memastikan petani mendapatkan harga yang layak dan terhindar dari jeratan tengkulak,” tegas Ridwan.
Ridwan berharap pemerintah dapat mengambil langkah strategis untuk memastikan petani jagung ikut menikmati hasil penjualan.
“Peningkatan penjualan harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Jika tidak, angka kemiskinan di Gorontalo akan sulit diturunkan,” pungkasnya.












