Hendra Nurdin Dorong Peringatan Hari Lahir Disesuaikan dengan Fakta Sejarah: 8 Desember 2006

GORONTALO UTARA– Anggota Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), Hendra Nurdin, mendorong agar peringatan hari lahir (HUT) daerah ke depan disesuaikan dengan fakta sejarah pembentukan Gorontalo Utara. Menurutnya, Gorut sesungguhnya lahir pada 8 Desember 2006, bukan 26 April.

“Fakta sejarahnya bahwa Gorut ini lahir pada 8 Desember 2006. 26 April ini sebenarnya hanya pelantikan Pejabat Bupati sekaligus peresmian Gorut,” ujar Hendra Nurdin di Gorontalo Utara, Minggu (26/4/2026).

Politisi yang juga sebagai pelaku sejarah pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara itu memberikan analogi sederhana untuk memperjelas perbedaan antara tanggal kelahiran daerah dengan tanggal administrasi.

“Analoginya, seorang bayi lahir pada hari ini, akta kelahirannya keluar pada besok hari. Yang harus diperingati adalah lahir bayi hari ini, bukan keluar akta kelahirannya,” tegasnya.

Hendra menilai selama ini peringatan HUT Gorontalo Utara yang digelar setiap 26 April tidak tepat secara historis. Meskipun tanggal tersebut merupakan momen penting sebagai awal berjalannya pemerintahan daerah, Ia menegaskan bahwa esensi kelahiran sebuah daerah adalah ketika undang-undang pembentukannya disahkan.

“Saya ini pelaku sejarah pembentukan Gorontalo Utara. Saya tahu persis bagaimana proses perjuangan panjang hingga akhirnya daerah ini resmi menjadi kabupaten,” tambahnya.

Menurut catatan sejarah pembentukan daerah otonom baru, Kabupaten Gorontalo Utara resmi berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara. UU tersebut disahkan pada 8 Desember 2006 dan diundangkan pada 26 April 2007. Perbedaan antara tanggal pengesahan dan pengundangan kerap menjadi polemik di sejumlah daerah pemekaran.

Hendra berharap ke depan DPRD bersama pemerintah daerah dapat mengkaji ulang penetapan hari jadi Gorontalo Utara agar lebih berdasar pada fakta sejarah, bukan sekadar seremoni administratif.

“Mari kita luruskan agar generasi muda tidak keliru memahami sejarah daerahnya sendiri,” pungkasnya.

Bagikan:   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *