Sandy Syafrudin Nina
(Anak Muda Yang Membaca Gerindra Dari Pantai Paling Utara Gorontalo)
Anteronesia.id, (OPINI) – Saya berdiri di sini. Di garis pantai paling sunyi, jauh dari riuh gedung parlemen, namun cukup dekat untuk merasakan getaran tanah ketika sejarah sedang ditulis. Hari ini, 6 Februari 2026, angin utara membawa kabar bahwa Partai Gerindra telah genap berusia delapan belas tahun.
Bagi saya seorang anak muda yang hanya memandang dari kejauhan Gerindra di Gorontalo bukanlah sekadar bangunan partai dengan bendera-bendera yang berkibar kaku. Di mata saya, ia tampak seperti sebuah Samudra. Ia luas, ia dalam, dan yang paling penting: ia menawarkan cakrawala harapan yang epik bagi siapa saja yang berani menyelam ke dalamnya. Dan di tengah samudra itu, saya melihat sosok Elnino M. Husein Mohi.
Melampaui Jebakan Tokenism
Dari tempat saya berdiri, saya sering melihat panggung politik Indonesia terjebak dalam apa yang disebut teoritikus sebagai Political Tokenism di mana anak muda hanya dijadikan pajangan etalase, manis dilihat tapi tak punya kuasa.
Namun, pemandangan berbeda terhampar di “Samudra Gerindra” yang dirawat Elnino. Saya menyaksikan sebuah anomali yang indah. Elnino tidak menjadikan anak muda sebagai buih di lautan yang timbul tenggelam. Beliau menjadikan mereka gelombang.
Saya melihat Elnino menerapkan Substantive Representation. Ia tidak sekadar memanggil anak muda untuk mengisi formulir keanggotaan. Ia membuka pintu ruang kemudi. Ia memberikan kesempatan yang nyata bukan di atas kertas, tapi di atas palu sidang dan podium kebijakan—agar anak muda bisa tumbuh menjadi nakhoda bagi nasib daerahnya sendiri.
Elnino dan Arsitektur Harapan
Sebagai pengamat yang memandang dari tepian, saya melihat Elnino Mohi bukan sekadar ketua partai. Ia adalah seorang Political Mentor yang sabar. Di tangannya, Gerindra Gorontalo berubah menjadi School of Democracy.
Saya membayangkan, betapa beruntungnya mereka yang berada di dalam sana. Mereka tidak dididik untuk mewarisi feodalisme masa lalu, tetapi ditempa untuk menghadapi tantangan masa depan. Elnino tampaknya paham betul bahwa Regenerasi Politik bukanlah tentang mengganti orang tua dengan orang muda, melainkan tentang mentransfer nilai, integritas, dan keberanian.
Di mata saya, Elnino sedang menanam benih Meritokrasi. Siapa pun yang punya kapasitas, siapa pun yang punya gagasan tanpa peduli nama belakang atau isi dompet diberikan ruang seluas samudra untuk membuktikan diri. Ini adalah pemandangan yang menyegarkan bagi saya yang merindukan politik yang berakal sehat.
Doa dari Garis Pantai.
Delapan belas tahun adalah usia kematangan. Di usia ini, Gerindra telah membuktikan dirinya sebagai institusi yang kokoh, bukan partai musiman.
Dari garis pantai ini, saya menitipkan harapan. Semoga samudra itu tetap biru. Semoga Elnino Mohi tetap menjadi penjaga mercusuar yang menerangi jalan bagi anak-anak muda Gorontalo yang ingin mengabdi.
Biarkan partai ini tetap menjadi muara bagi ide-ide liar anak muda. Biarkan ia tetap menjadi ombak yang menghantam karang kemapanan yang korup.
Dirgahayu ke-18, Partai Gerindra. Teruslah menjadi samudra. Karena bagi kami anak muda yang memandang dari kejauhan kalian adalah satu-satunya hamparan harapan yang menjanjikan petualangan perubahan yang sesungguhnya.
Gorontalo, 6 Februari 2026.












