GORONTALO UTARA — Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Gorontalo Utara, Yowan Sukarna, kembali melancarkan serangan verbal paling keras terhadap pengelolaan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di bumi Gerbang Emas. Ia menilai perusahaan tersebut saat ini dijalankan dengan “Kegagapan Pimpinan dan Kelinglungan Humas”.
Kritik tajam ini merupakan buntut dari persoalan klasik yang tak kunjung usai: truk pengangkut kayu bermuatan berlebih (overload) yang merusak infrastruktur jalan desa sekaligus membahayakan keselamatan warga.
Yowan menyebut pimpinan HTI Gorontalo Utara tidak lagi menunjukkan profesionalisme.
“Pimpinan perusahaan ini nampak seperti pecundang di markasnya sendiri. Mereka tak punya daya tawar di hadapan vendor, tak punya kendali atas unit-unit pengangkut kayu yang membantai jalanan,” tegas Yowan.
Ia mempertanyakan esensi kepemimpinan jika aturan dasar seperti mengatur muatan saja tidak mampu ditegakkan.
“Jika mengatur muatan saja tidak becus, jika memberi perintah pada sopir saja tidak didengar, lantas untuk apa jabatan itu dipertahankan? Kepemimpinan yang gagap adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Tidak hanya pimpinan, sorotan tajam Yowan mengarah pada humas perusahaan, Mansir Mudeng. Ia menilai gaya komunikasi yang ditampilkan justru menghina nalar publik.
“Mansir sibuk bersilat lidah dan berbalas pantun, seolah-olah rima yang ia susun bisa menambal lubang di jalanan. Ini bukan sekadar kelinglungan, ini adalah ketidakpedulian yang arogan,” kritik Yowan.
Ia menegaskan bahwa warga Gorontalo Utara tidak membutuhkan “penyair bayaran”, melainkan solusi nyata atas kerusakan jalan dan ancaman keselamatan akibat truk overload.
“Berhenti berpantun, Mansir! Setiap bait yang kau keluarkan adalah bukti betapa kau tidak memahami esensi penderitaan warga di lapangan. Rakyat butuh solusi, bukan pantun! Berbalas pantun di tengah kehancuran adalah penghinaan terhadap nalar publik,” tandasnya.
Mantan Presiden BEM Universitas Gorontalo itu memberikan ultimatum keras. Ia menilai pimpinan HTI saat ini tidak layak lagi dihormati karena gagal menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan.
“Cukup sudah teater ketidaktahuan ini! Pimpinan HTI duduk di kursi empuk bukan untuk diam dan linglung saat jalanan rakyat hancur lebur dan nyawa rakyat terancam akibat muatan overload. Jika Anda tak punya nyali memerintah sopir-sopir overload itu, maka Anda adalah pemimpin gagal yang tak layak dihormati,” ujarnya dengan nada tegas.
Yowan menegaskan bahwa seruan #GantiPimpinanHTI bukan sekadar tagar, melainkan mandat rakyat yang harus segera diwujudkan.
“Sampai hari ini, apa kejelasan solusinya? Sama sekali tidak ada! HTI terus menikmati kucuran rupiah dari proyek yang berjalan, sementara beban kerusakan dialihkan kepada negara dan warga. Ini adalah praktik bisnis parasit! Jangan biarkan pimpinan yang gagap terus berkuasa. Jangan biarkan humas yang linglung terus membual dengan pantun-pantun sampahnya,” pungkasnya.










