ANTERONESIA.ID | GORONTALO UTARA— Ketua Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Kabupaten Gorontalo Utara, Febriyan Mohu, tidak henti-hentinya menyoroti kasus misterius hilangnya puluhan ekor ternak dalam program unggulan Bupati Thariq Modanggu, G2-10 Plus.
Setelah sebelumnya 45 ayam dan 23 kambing diklaim mati akibat wabah, kini 5 ekor kambing dari sisa 15 ekor kembali hilang tanpa kabar. Yang lebih mencengangkan, Direktur BUMDesma Motabi Tilango, Amir Ismail, memilih bungkam saat dikonfirmasi awak media.
“Bungkamnya Direktur BUMDesma itu indikasi kuat ada kejanggalan dalam pengelolaan program G2-10 Plus. Jika semuanya baik-baik saja dan sesuai prosedur, mengapa tutup mulut? Ini menambah kecurigaan publik,” tegas Febriyan, Minggu (24/5/2026).
Febriyan berani menyatakan dugaan yang lebih serius. Ia meyakini bahwa klaim kematian massal akibat wabah penyakit tidak benar adanya. Menurutnya, puluhan ternak tersebut bukan mati, melainkan sengaja dihilangkan secara misterius.
“Saya menduga kuat bahwa ternak G2-10 Plus yang sebelumnya diklaim mati karena serangan wabah itu ‘tidak benar’. Bukan mati, tapi dihilangkan. Polanya sama: awalnya 38 kambing, diklaim mati 23, sisa 15. Sekarang dari 15, hilang lagi 5. Ini pola penghilangan beruntun, bukan kematian karena wabah,” ujar Febriyan.
Febriyan juga menyoroti kejanggalan lain yang tidak kalah penting. Ia mempertanyakan mengapa Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara tidak pernah mengeluarkan pengumuman resmi tentang adanya wabah penyakit yang menyerang ternak di wilayah Tomilito.
“Jika benar ada wabah penyakit yang menyebabkan puluhan ternak mati massal, maka itu adalah kejadian luar biasa. Pemerintah wajib mengumumkan secara resmi karena wabah bersifat menular dan bisa berdampak luas pada peternakan lain di Gorontalo Utara. Tapi sampai saat ini, tidak ada satupun pengumuman resmi dari Dinas Peternakan, dari Pemerintah Daerah, Artinya apa? Klaim wabah itu tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Febriyan menyayankan program yang digadang-gadang sebagai ikon kebanggaan Bupati Thariq Modanggu itu kini telah pupus. Bukan karena gagal secara konsep, melainkan karena dihancurkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam pengelolaannya.
“Saya sangat menyayangkan. Program G2-10 Plus ini sebenarnya bagus, Tapi sayangnya, di Tomilito yang menjadi pilot project, program ini pupus. Pupus di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mulai dari pengurus yang bungkam, dewan pengawas yang pasif, hingga dewan pembina (Camat) yang gagal melakukan pengawasan. Ini adalah pembunuhan sistematis terhadap program unggulan daerah,” pungkas Febriyan.
Febriyan mendesak Bupati Thariq Modanggu untuk turun tangan. Ia meminta audit investigatif menyeluruh terhadap BUMDesma Tomilito, serta penggantian seluruh jajaran pengurus yang dinilai tidak kompeten dan tidak jujur.
“Jangan biarkan program yang sudah menghabiskan banyak sumber daya, termasuk sumbangan investor dan modal desa Rp. 50 juta, berakhir sia-sia. Buka semua data, lakukan audit, dan tindak tegas siapa pun yang terbukti bersalah. Publik berhak tahu kebenaran di balik hilangnya puluhan ternak ini,” tutup Febriyan.
Hingga kini, Direktur BUMDesma Motabi Tilango Tomilito masih bungkam. Tim Redaksi masih terus berupaya menghubungi Direktur atau pun pengurus BUMDesma.







