ANTERONESIA.ID | GORONTALO UTARA– Menyusul pemberitaan tentang kosongnya kandang pilot project G2-10 Plus di Mini Ranch Tomilito, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gorontalo Utara, Imail Udin, memberikan pandangan berbeda. Ia menegaskan bahwa program unggulan Bupati Thariq Modanggu tersebut bukanlah program bantuan biasa, melainkan sebuah model bisnis yang wajar menghadapi risiko, tantangan, bahkan kematian ternak. Ia mengajak semua pihak untuk tidak saling memojokkan, melainkan bersama-sama mencari solusi.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gorontalo Utara, Imail Udin, memberikan apresiasi sekaligus pandangan atas dinamika yang saat ini terjadi terhadap program G2-10 Plus di Gorontalo Utara. Menurutnya, publik perlu memahami secara utuh filosofi di balik program tersebut.
“Pertama, kita harus memahami bahwa G2-10 Plus bukan sekadar program bantuan biasa, tetapi sebuah model bisnis yang diluncurkan oleh Bupati sebagai solusi di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah. Ketika bantuan pemerintah kepada masyarakat semakin terbatas, maka dibutuhkan sebuah gagasan baru agar masyarakat tetap produktif, mampu bertahan, dan tetap memiliki penghasilan,” ujar Imail. (12/6).
Ia menjelaskan, kehadiran G2-10 Plus adalah langkah pemerintah untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Sebagai sebuah model bisnis, program ini tentu membutuhkan proses uji coba, evaluasi, dan percontohan di lapangan.
“Dari situlah lahir pusat kegiatan G2-10 Plus yang berada di Mini Ranch Tomilito, yang bahkan telah menarik perhatian investor swasta untuk berinvestasi pada usaha kambing dan ayam. Tidak hanya itu, ada pula keterlibatan dari perguruan tinggi, pejabat pemerintah, hingga investasi perorangan. Ini menunjukkan bahwa program ini memiliki daya tarik dan potensi untuk berkembang,” tambahnya.
Imail mengakui bahwa baru-baru ini muncul sorotan dari berbagai pihak yang menyebut program ini gagal atau merugi karena adanya kambing dan ayam yang mati. Namun, ia menegaskan bahwa istilah “gagal” dan “rugi” adalah sesuatu yang sangat dekat dengan dunia bisnis, terlebih lagi bisnis di sektor peternakan yang penuh tantangan dan risiko.
“Dalam usaha peternakan, kematian ternak, kerugian produksi, maupun hambatan teknis adalah bagian dari proses pembelajaran menuju sistem usaha yang lebih baik. Justru istilah gagal dan rugi hampir tidak pernah muncul dalam pola bantuan pemerintah yang sifatnya dibagikan begitu saja kepada masyarakat. Tetapi dalam dunia usaha, kita harus siap menghadapi risiko sekaligus mencari solusi untuk memperbaiki keadaan,” lanjutnya.
Alumni Peternakan Universitas Negeri Gorontalo ini mendorong agar persoalan yang terjadi dalam G2-10 Plus dievaluasi secara menyeluruh sehingga ditemukan solusi dan jalan keluar terbaik. Ia berharap, usaha ini tetap harus berjalan dan berkembang.
“Tidak ada istilah berhenti atau stop untuk program ini hanya karena menghadapi tantangan di tahap awal. Semua usaha besar pasti dimulai dengan proses belajar, perbaikan, dan evaluasi.” Ungkapnya.
Imail juga mengajak semua pihak untuk tidak saling memojokkan atau mencari siapa yang harus disalahkan.
“Akan jauh lebih baik jika kita menjadi bagian dari orang-orang yang hadir membawa solusi atas persoalan yang sedang dihadapi masyarakat dan daerah kita.” Katanya.
Imail mengajak publik untuk melihat program G2-10 Plus sebagai sebuah ikhtiar bersama untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat Gorontalo Utara.
“Program ini masih baru, masih berproses, dan masih sangat mungkin untuk diperbaiki serta dikembangkan menjadi model usaha rakyat yang berhasil di masa depan,” tutupnya.













