Anteronesia.id, Gorontalo Utara– Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara bersama Pimpinan Organisasi Daerah (OPD), pemerintah kecamatan, Kepala Desa serta masyarakat menggelar aksi kebersihan “Mopoberesi Kambungu” di kawasan Pantai Monano, Selasa (17/02/2026). Kegiatan ini difokuskan pada pembersihan material sampah plastik dan organik yang mengotori sepanjang garis pantai.
Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, yang memimpin langsung jalannya aksi, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga ruang publik. Menurutnya, kebersihan lingkungan pesisir memiliki dampak signifikan terhadap citra daerah.
“Pantai adalah wajah daerah. Jika kondisi lingkungannya terjaga, persepsi publik terhadap daerah juga akan positif,” ujar Thariq di sela-sela kegiatan.
Thariq menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis untuk mendorong terciptanya budaya hidup bersih secara mandiri di tengah masyarakat. Pihaknya juga menyebut bahwa agenda ini merupakan respons konkret terhadap arahan pemerintah pusat terkait percepatan penanganan sampah di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, warga dan relawan tampak membaur mengumpulkan sampah yang kemudian diangkut menggunakan armada kebersihan. Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara berharap gerakan ini dapat memicu desa-desa lain untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan masing-masing.
Kepala Desa Monano, Hernandes Ohihiya, mengungkapkan bahwa persoalan sampah di Pantai Monano menjadi tantangan rutin. Ia menjelaskan bahwa seminggu sebelum kegiatan, area pantai sempat dibersihkan bersama personel Kodim. Namun, faktor alam menyebabkan sampah laut kembali menumpuk hanya dalam hitungan hari.
“Dua hari sebelum kegiatan, masuk lagi kiriman sampah laut. Tadi sudah dibersihkan total, karena sebelumnya hanya di bagian atas, sementara di bibir pantai sudah terkumpul lagi,” ungkap Hernandes kepada awak media.
Thariq menambahkan, fenomena sampah kiriman ini biasanya memuncak pada bulan Maret. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor geografis dan pola angin musiman. Sebagai wilayah yang berhadapan langsung dengan Laut Sulawesi, Pantai Monano menjadi titik akumulasi sampah plastik dan material organik yang terbawa arus permukaan.
“Angin laut yang bertiup kencang menjelang Maret mendorong massa air beserta sampap terapung dari tengah laut menuju daratan,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak desa telah menjalankan program rutin bertajuk “Jumpa Berlian” (Jumat Pagi Bersih-bersih Lingkungan) serta berkoordinasi dengan pihak Kodim untuk menjaga kebersihan kawasan wisata pantai.
Namun, Hernandes mengakui bahwa pihaknya masih memiliki keterbatasan dalam hal alat pengolahan sampah. Selama ini, sampah yang terkumpul dikelola dengan sistem gali-timbun atau dibakar jika volumenya kecil.
“Untuk menjaga keberlanjutan, kami dibantu oleh perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) yang menyediakan truk untuk mengangkut sampah ke TPA milik mereka. Namun, jika volume sampah sudah sangat banyak, kami akan mengantarnya ke TPA Talumelito,” pungkasnya.






