ANTERONESIA.ID GORUT – Di bawah bayang-bayang proyek ROW SUTT 150 KV, ada kisah yang lebih besar daripada sekadar tiang listrik dan kabel tegangan tinggi. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang ketidakadilan yang dirasakan masyarakat kecil. Warga Desa Deme Dua kini bertanya: sampai kapan pemimpin mereka mengabaikan suara rakyat?
Rakyat yang Tertindas, Pemimpin yang Diam
Di setiap sudut desa, cerita yang sama berulang. Tanah yang dulu mereka garap, mereka lindungi, kini berubah status. Nama mereka hilang, digantikan oleh segelintir orang yang punya kuasa. “Dulu tanah ini milik kami, sekarang entah bagaimana bisa menjadi milik mereka,” ujar warga Deme Dua.
Mereka tidak meminta lebih, hanya ingin hak mereka diakui. Mereka tidak ingin bertikai, hanya ingin kejelasan. Namun, ketika pertanyaan mereka hanya dijawab dengan saling lempar tanggung jawab oleh para elit desa, di mana lagi mereka harus mencari keadilan?
Suara Rakyat untuk Pemimpin yang Masih Punya Nurani
Kepada mereka yang duduk di kursi kekuasaan desa, warga punya pesan:
– Jangan rampas hak kami hanya karena kalian punya kuasa.
– Jangan bodohi kami dengan janji manis yang tak pernah ditepati.
– Jika kalian benar-benar pemimpin, bertindaklah adil!
Seorang warga dengan meneteskan air mata berkata, “Kami ini rakyat kecil, kami tidak punya kuasa, tidak punya jabatan. Tapi apakah itu artinya hak kami boleh diambil begitu saja?”
Bukan Sekadar Kasus, Ini Ujian Kemanusiaan
Kasus ini bukan hanya soal administrasi tanah atau kebijakan desa. Ini adalah cerminan bagaimana pemimpin memperlakukan rakyatnya. Mereka yang telah diberi kepercayaan seharusnya melindungi, bukan malah mengambil apa yang bukan haknya.
Jika pemimpin desa masih punya hati nurani, mereka seharusnya berani mengembalikan hak warga. Karena sejarah akan mencatat: siapa yang berjuang untuk rakyat, dan siapa yang hanya mengisi kantongnya sendiri.
Dan kepada mereka yang merasa kebal hukum, ingatlah satu hal, suara rakyat mungkin terdengar lirih, tapi jika terus diabaikan, ia akan menjadi badai yang tak terbendung.
Tanah kami, hak kami. Jangan biarkan keserakahan menghapusnya.









