Oleh: Suryanto
ANTERONESIA.ID|OPINI- Perayaan ulang tahun sekolah ke-46 kerap menjadi ajang nostalgia. Papan nama dihias, foto-foto lawas berserakan di linimasa media sosial, dan deretan alumni berbondong-bondong mengenakan jas almamater hanya untuk sekadar berfoto di depan gerbang. Namun, di balik gemerlap kamera dan senyum seragam, muncul pertanyaan mendasar yang jarang mengemuka di meja makan siang: sejauh mana kita, para alumni, benar-benar hadir untuk sekolah, atau hanya hadir untuk kenangan?
Perlu diakui, transformasi fisik hanyalah kulit luar dari perjalanan sebuah institusi pendidikan. Di SMA Negeri 7 Prasetya, papan tulis telah berganti, bangku bergeser, dan warna seragam berubah. Namun, satu hal yang stagnan justru adalah pola relasi antara sekolah dan para lulusannya. Sekolah masih kerap diperlakukan seperti museum tempat yang cukup dikunjungi setahun sekali, dipotret, lalu ditinggalkan lagi hingga agenda tahunan berikutnya.
Padahal, jika kita mau jujur, fungsi sekolah bukanlah sebagai penjaga kenangan statis. Sekolah adalah rumah ilmu yang dinamis, yang terus membutuhkan “tangan-tangan” yang pernah dibesarkannya. Ironisnya, euforia reuni sering kali berhenti pada tataran seremonial. Kita sangat sibuk menyebut nama-nama lama dan membuka album foto, tetapi jarang kita tanyakan: apakah ruang kelas yang dulu kita tempati kini layak dipakai? Apakah adik-adik kelas kita memiliki fasilitas yang lebih baik dari yang kita dapatkan dulu?
Data sederhana menunjukkan bahwa sekolah negeri di daerah sangat bergantung pada partisipasi pemangku kepentingan. Sayangnya, kepedulian alumni kerap hanya berwujud sumbangan material yang sifatnya insidental, bukan program berkelanjutan. Kita bangga menjadi alumni ketika sekolah meraih prestasi, tetapi kita lupa bahwa prestasi itu membutuhkan dukungan berkelanjutan, bukan hanya tepuk tangan saat acara puncak.
Pengalaman pribadi saya mengajar di sekolah ini sejak usia 25 tahun mengajarkan satu hal: guru adalah penanam, murid adalah pohon, dan alumni adalah pemetik buah. Namun, hukum alam berkebun mengajarkan bahwa kebun akan gundul jika para pemetik tidak pernah membawa pulang benih untuk ditanam kembali. Ini bukan soal uang semata, tetapi tentang kehadiran intelektual dan kontribusi nyata, misalnya menjadi mentor bagi siswa saat ini, berbagi jejaring profesional, atau bahkan sekadar menyumbang gagasan untuk pengembangan kurikulum.
Perbedaan mendasar antara sekadar “alumni” dan “kontributor” terletak pada pertanyaan yang diajukan. Alumni pada umumnya bertanya, “Apa yang sudah sekolah berikan kepadaku?” Sedangkan kontributor sejati bertanya, “Apa yang bisa aku tinggalkan untuk sekolah?” Pergeseran pertanyaan ini krusial. Ia mengubah posisi alumni dari konsumen jasa pendidikan di masa lalu, menjadi investor bagi masa depan generasi berikutnya.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana sekolah ini bertambah usia, dan secara bersamaan, usia saya pun mengejarnya. Saya datang muda, dan kini berdiri sebagai saksi tua atas perjalanan generasi. Saya melihat murid-murid pergi; sebagian kembali membawa prestasi, sebagian kembali dengan cerita, dan sebagian besar lainnya mungkin lupa bahwa pernah ada guru yang mengajarkan mereka mengeja kata “masa depan”. Namun, sebagai guru, saya sadar bahwa pengabdian tidak pernah menuntut balas.
Akan tetapi, kesadaran itu tidak boleh menjadi pembenaran bagi para alumni untuk bersikap apatis. Menjadi saksi tua atas perjalanan sekolah bukanlah sebuah pencapaian, melainkan sebuah tanggung jawab moral. Karena pada akhirnya, ukuran kebesaran sebuah sekolah tidak terletak pada berapa banyak alumninya yang menjadi pejabat atau pengusaha sukses. Ukuran kebesaran sekolah terletak pada seberapa banyak alumninya yang “kembali” ketika tidak ada lagi acara besar, ketika tidak ada lagi kamera, dan ketika tepuk tangan telah berhenti.
Usia 46 tahun adalah momentum bagi SMA Negeri 7 Prasetya untuk tidak sekadar bertambah tua, tetapi juga bertambah dewasa dan bermakna. Demikian pula dengan para alumninya. Sudah saatnya kita menghentikan kebiasaan menjadikan sekolah sebagai latar belakang foto semata.
Sekolah yang besar lahir dari alumni yang tidak lupa dari mana mereka berasal. Karena itu, mari kita ubah narasi. Jika selama ini kita hanya datang untuk bernostalgia, mulai sekarang marilah kita datang untuk membangun. Pada akhirnya, 46 tahun bukanlah sekadar angka. Ia adalah ribuan nama, ribuan mimpi, dan ribuan kesempatan untuk membuat sekolah ini lebih besar daripada sekadar cerita di seragam lama.
Selamat 46 tahun, SMA Negeri 7 Prasetya. Semoga usiama bermakna, dan semoga kami, para alumnimu, tidak hanya pulang membawa kamera, tetapi juga pulang membawa kontribusi.











