ANTERONESIA.ID | GORONTALO UTARA– Program unggulan Bupati Gorontalo Utara, G2-10 Plus (Gerakan 2 Ekor Kambing dan 10 Ekor Ayam), yang digadang-gadang untuk ketahanan pangan dan swasembada daging, kini terjerat persoalan serius. Hasil temuan media dilapangan menemukan kandang percontohan di Mini Ranch Peternakan Terpadu, Kecamatan Tomilito, dalam keadaan kosong. Dewan Pengawas BUMDesma Tomilito mengaku tidak pernah dilibatkan dan tidak pernah menerima laporan terkait wabah penyakit yang diklaim Direktur BUMDesma.
Menanggapi pemberitaan sebelumnya tentang program G210 Plus, Dewan Pengawas BUMDesma Tomilito, Tutun Suaib, mengungkapkan bahwa selama program tersebut berjalan, pihaknya tidak pernah dilibatkan.
“Dewan pengawas sampai hari ini bertanya-tanya sudah sejauh mana perkembangan program ini, apakah jalan atau mundur ke belakang?” ujar Tutun melalui sambungan telepon, Jumat (8/5/2026).
Menurut Tutun, selama ini dewan pengawas hanya dilibatkan ketika pelaksanaan Musyawarah Antar Desa (MAD), itupun sebatas undangan.
“Kami tidak mau dianggap gagal dalam mengawasi program ini, karena kami tidak pernah dilibatkan. Padahal dewan pengawas adalah bagian tak terpisahkan dari BUMDesma,” lanjutnya.
Tutun juga membantah pernyataan Direktur BUMDesma Tomilito, Amir Ismail, yang sebelumnya mengklaim bahwa penurunan jumlah ternak disebabkan oleh serangan penyakit dan telah dilaporkan.
“Terkait penyerangan penyakit terhadap ayam dan kambing seperti apa yang dijelaskan oleh direktur sebelumnya bahwa semua itu tertuang dalam laporan. Yang jadi pertanyaan, di mana laporan itu? Kami dewan pengawas tidak pernah menerima laporan itu dan selama ini Kecamatan Tomilito juga tidak pernah ada penyerangan wabah terhadap ternak.” tegas Tutun.
Dengan tidak adanya laporan dan keterlibatan dewan pengawas, publik kini mempertanyakan transparansi BUMDesma dalam pengelolaan program G2-10 Plus yang menjadi ikon kebanggaan Bupati Gorontalo Utara tersebut.









