ANTERONESIA.ID GORONTALO – Kerja sama Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan Bulog dalam stabilisasi harga jagung dinilai belum memenuhi harapan petani. Hal ini disampaikan aktivis lingkungan Ayi Waras menanggapi keluhan para petani.
“Gubernur telah mengantisipasi gejolak harga jagung saat panen raya, tetapi realisasinya tidak sesuai harapan,” ujar Ayi, Selasa (7/5).
Menurutnya, proses pembayaran jagung petani oleh Bulog memakan waktu 4-5 hari, belum lagi antrian panjang dan tarif sewa truk yang dinilai terlalu murah. Kondisi ini berbanding terbalik dengan gudang swasta yang membayar langsung setelah penimbangan.
“Kehadiran Bulog sebagai penampung jagung di Gorontalo belum efektif. Kami memohon gubernur turun tangan memastikan keseriusan Bulog,” tegasnya.
Ayi mendesak pemerintah segera menindaklanjuti keluhan ini agar petani tidak dirugikan. “Percuma harga tinggi jika pembayaran tertunda. Petani lebih memilih harga standar dengan pembayaran cepat,” pungkasnya.
Sementara itu, pihak Bulog melalui Humas Bulog Gorontalo Amir Gani menjelaskan bahwa proses pembayaran tidak seperti apa yang disampaikan oleh Ayi Waras, menurutnya proses pembayaran hanya memakan waktu satu kali dua puluh empat jam hanya karena beberapa faktor sehingga terjadi keterlambatan pembayaran.
*Normalnya kita proses pembayarannya hanya 1×24 jam pak hanya karena terdapat beberapa faktor terhambatnya pembayaran secara normal” ujar Amir
Adapun faktor hingga terjadinya keterlambatan pembayaran tersebut yaitu dikarenakan ketika jagung milik masyarakat yang masuk pada hari Rabu masih tertunda karena pada hari Kamis masih hari libur Hari Buruh dan masih adanya pengaturan pengelolaan gudang baru yang ada di telaga sehingga jagung yang masuk di gudang telaga pada hari Rabu masih terjadi kendala pembayaran di hari yang sama namun menurutnya semuanya telah diselesaikan.
Terkait biaya muat yang dinilai sangat murah, Amir Gani menegaskan bahwa sesuai dengan ketentuan pihak Bulog telah ada standar harga yaitu maksimal 200 rupiah / kg













