ANTERONESIA.ID – Tiga desa di Kecamatan Tomilito, Gorontalo Utara (Gorut), yakni Bubode, Milango, dan Leyao, dilanda banjir hingga lima kali dalam sepekan terakhir Januari 2025.
Banjir terparah terjadi pada Sabtu (25/1) dini hari, sekitar pukul 02.00, dengan ketinggian air mencapai di atas lutut orang dewasa.
Menurut Riskal Gou, seorang tokoh masyarakat di Tomilito, bencana ini mengakibatkan kerusakan besar pada tanaman jagung dan padi sawah yang menjadi sumber utama penghidupan warga.
Puluhan ternak ayam dilaporkan hanyut terbawa arus, dan sebuah dapur rumah warga di Desa Bubode hilang tersapu banjir.
“Meski tidak ada korban jiwa dalam bencana ini, kerugian material yang dialami masyarakat cukup besar,” ungkap Riskal pada Minggu (26/1).
Ia menjelaskan bahwa penyebab utama banjir tidak hanya dipicu oleh tingginya curah hujan, tetapi juga akibat pendangkalan sungai di bagian hilir Desa Milango yang semakin parah.
“Kondisi ini memperparah aliran air sehingga banjir dengan mudah meluas ke permukiman warga,” tambahnya.
Riskal dan masyarakat setempat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk segera menormalisasi sungai, memperbaiki infrastruktur pengendali banjir, dan memberikan bantuan kepada warga terdampak.
“Tanpa penanganan serius, banjir susulan dikhawatirkan akan terus terjadi, merugikan lebih banyak warga di masa mendatang,” kata Riskal.
Hingga saat ini, lanjut Riskal, pemerintah daerah, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), belum memberikan respons atau tindakan nyata untuk membantu warga terdampak.
“Belum ada kunjungan atau langkah konkret dari pihak berwenang untuk meninjau lokasi bencana maupun menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang kehilangan harta benda mereka,” tutup Riskal. (RM)













