ANTERONESIA.ID | GORONTALO UTARA— Polemik penyajian menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Popalo mendapat respons dari Kepala Yayasan Denia Ghaniya Berkah, Rahmat Bialangi. Sebagai penanggung jawab SPPG Popalo, ia meminta maaf dan mengakui adanya kelalaian.
Rahmat menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi dan memastikan pihak yayasan akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Secara yayasan juga kami mohon maaf, ketika ada hal-hal seperti ini, akan kami evaluasi. Terlepas dari menu yang dianggap tidak memenuhi syarat, saya akan melihat kembali petunjuk teknisnya,” ujar Rahmat saat diwawancarai di Dapur SPPG Popalo, Sabtu (6/6/2026).
Ia mengakui bahwa kelalaian dari pihak yayasan turut menjadi faktor dalam polemik tersebut.
“Barangkali terlepas dari itu, ini juga merupakan bentuk kelalaian kami dari yayasan. Namun sejauh ini kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ke depan, kami akan terus melakukan pengawasan serta evaluasi dan berupaya memberikan yang terbaik,”tegasnya.
Rahmat juga menyampaikan apresiasi kepada insan pers dan masyarakat yang memberikan kritik serta masukan. Menurutnya, pengawasan publik merupakan bagian penting dalam mendorong perbaikan kualitas layanan.
“Saya sangat berterima kasih karena ada kontrol sosial dari teman-teman pers dan masyarakat. Setidaknya ini menjadi momentum bagi kami untuk melakukan perbaikan. Kehadiran pers menjadi sarana kontrol agar program yang dijalankan dapat berjalan lebih baik,” katanya.
Disisi lain, Rahmat menegaskan bahwa pengelolaan teknis MBG di SPPG berada di bawah tanggung jawab struktur operasional yang telah ditetapkan, dengan Kepala SPPG sebagai penanggung jawab penuh dibantu tenaga ahli di lapangan.
Menurutnya, yayasan berperan sebagai penyedia fasilitas, sementara pelaksanaan teknis program dijalankan oleh Kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan asisten lapangan sesuai tugas masing-masing.
“Yayasan itu hanya pemilik fasilitas. Untuk pengelolaan di SPPG ada kepala SPPG, ahli gizi, akuntan, dan asisten lapangan. Namun berbagai persoalan yang muncul tetap menjadi perhatian kami dan akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan,” ujarnya.
Meski demikian, Rahmat menyatakan pihak yayasan tidak akan lepas tangan terhadap polemik yang terjadi. Berbagai masukan dan kritik akan menjadi bahan evaluasi internal guna memperbaiki pelaksanaan program ke depan.
Perlu diketahui, berdasarkan Petunjuk Teknis Badan Gizi Nasional (BGN), Yayasan bukan sekadar mitra bisnis, melainkan tulang punggung operasional MBG yang mengemban amanah besar untuk memastikan program berjalan profesional, bersih, transparan, dan akuntabel. Fungsi dan tugasnya mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari legalitas, operasional dapur, jaminan gizi dan keamanan, hingga tata kelola administrasi dan keuangan.







