ANTERONESIA.ID (GORUT) – Pemerintah Provinsi Gorontalo bekerja sama dengan Perum Bulog dalam menampung jagung hasil panen petani sejak awal tahun 2025. Kapasitas penyerapan ditargetkan mencapai 76.000 ton.
Namun, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap mengingat Bulog belum memiliki gudang sendiri dan masih mengandalkan penyimpanan di gudang milik swasta.
Gubernur Gorontalo menghimbau masyarakat, khususnya para petani, agar menjual hasil panen jagung mereka ke Bulog guna menjaga stabilitas harga pangan.
Pemerintah menetapkan harga Rp5.500 per kilogram dengan kadar air 14% (jagung kering), tanpa potongan biaya apa pun.
Namun di lapangan, kebijakan tersebut belum sepenuhnya berjalan mulus. Seorang petani asal Gorontalo Utara yang enggan disebutkan namanya mengeluhkan rumitnya prosedur yang diterapkan pihak Bulog.
Selain kadar air, petugas Bulog juga memeriksa kebersihan dan kandungan jamur dalam jagung. Jika ditemukan satu karung pun yang tidak memenuhi standar, maka seluruh muatan ditolak.
“Bagi kami petani, setelah panen langsung dilotor dan dijemur. Kami tidak punya mesin pembersih atau pengering untuk memisahkan tongkol atau mengurangi kadar jamur,” ujarnya, Sabtu (10/5).
Selain itu, sistem pembayaran juga menjadi sorotan. Menurutnya, pembayaran oleh Bulog memakan waktu hingga 4–5 hari, sementara pengembalian biaya sewa mobil bisa memakan waktu 1–2 minggu atau bahkan tidak dibayar dengan berbagai alasan.
Meski begitu, para petani tetap mengapresiasi langkah Gubernur Gorontalo yang dinilai berpihak pada kesejahteraan petani dan mendukung ketahanan pangan nasional.







