Instruksi Bupati Diabaikan, APRI Pertanyakan Konsistensi Pemda

ANTERONESIA.ID|GORONTALO UTARA– Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Kabupaten Gorontalo Utara menyatakan kekecewaannya terhadap Pemerintah Daerah (Pemda) Gorontalo Utara dalam rapat penanganan aktivitas pertambangan di Desa Hulawa, Kecamatan Sumalata Timur, Selasa (1/9).

Ketua APRI Gorontalo Utara, Abdul Azis Deny Latif, mengungkapkan bahwa pihaknya datang ke lokasi rapat dengan semangat membantu pemerintah daerah setelah menerima instruksi Bupati Gorontalo Utara agar APRI dilibatkan dalam pembahasan penanganan pertambangan di Hulawa.

Namun, semangat tersebut justru berujung pada kekecewaan. APRI mengaku tidak mendapatkan koordinasi dari pihak pemerintah daerah saat rapat yang sedianya digelar di Desa Hulawa.

“Rapat terakhir sudah jelas diinstruksikan oleh Bupati agar APRI dilibatkan dalam rapat hari ini. Karena itu kami datang dengan penuh semangat untuk membantu pemerintah daerah. Tetapi kenyataannya kami seperti diabaikan,” ujar Abdul Azis.

Abdul Azis menjelaskan, APRI sebelumnya telah dilibatkan dalam pembahasan Tim Terpadu Penanganan Pertambangan Berkelanjutan (TT-PPB) Kabupaten Gorontalo Utara. Karena itu, APRI menganggap keterlibatan mereka dalam rapat di Hulawa merupakan bagian dari koordinasi yang telah dibangun bersama pemerintah daerah.

Namun, koordinasi tersebut dinilai tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Abdul Azis mengatakan, waktu rapat yang sebelumnya telah dijanjikan mengalami keterlambatan. Sementara itu, tidak ada komunikasi dari pihak Asisten I maupun Asisten II Setda Gorontalo Utara terkait perubahan waktu maupun pelaksanaan rapat.

“Kami sudah menunggu sesuai waktu yang dijanjikan. Tetapi waktunya molor dan tidak ada komunikasi dari pihak Asisten I dan Asisten II,” katanya.

Ia menyebut, pihak pemerintah daerah sebenarnya sudah berada di wilayah Kecamatan Sumalata Timur. Namun, keberadaan mereka masih berada di Kantor Camat Sumalata Timur dan belum ada koordinasi dengan APRI yang telah datang untuk mengikuti rapat.

Situasi tersebut membuat jajaran APRI akhirnya meninggalkan lokasi. Yang membuat APRI semakin kecewa, rapat justru baru dimulai setelah pihak APRI meninggalkan lokasi. APRI juga mengaku tidak kembali mendapatkan pemberitahuan bahwa rapat telah dimulai.

“Setelah kami pergi, baru rapat dimulai. Bahkan kami tidak diberitahu lagi bahwa rapat sudah dimulai,” ujarnya.

Menurut Abdul Azis, kondisi tersebut sangat disayangkan karena APRI datang bukan untuk menghambat agenda pemerintah, melainkan dengan niat membantu mencari solusi terhadap persoalan pertambangan rakyat di Hulawa.

Ia menegaskan, APRI selama ini terbuka untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah, terutama dalam mendorong penataan pertambangan rakyat agar dapat berlangsung secara tertib, aman, berkelanjutan, dan memiliki kepastian hukum.

“Kami datang dengan semangat membantu pemerintah daerah. Kami tidak datang untuk menghambat. Tetapi kalau sudah ada instruksi untuk melibatkan APRI, tentu kami berharap ada komunikasi dan koordinasi yang baik,” katanya.

Abdul Azis menilai, penanganan persoalan pertambangan Hulawa tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat penambang, APRI, serta unsur terkait lainnya perlu duduk bersama agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara menyeluruh.

Ia berharap Pemda Gorontalo Utara tidak membangun pola komunikasi yang hanya bersifat formal, tetapi benar-benar melibatkan pihak-pihak yang sejak awal telah diajak dalam pembahasan.

“Kalau memang APRI sudah dilibatkan dalam Tim Terpadu Penanganan Pertambangan Berkelanjutan, jangan hanya dilibatkan dalam pembahasan, tetapi ketika turun ke lapangan justru tidak ada koordinasi. Kami berharap ke depan hal seperti ini tidak terjadi lagi,” ujar Abdul Azis.

Bagi APRI, persoalan utama bukan semata-mata soal kehadiran dalam sebuah rapat. Yang dipersoalkan adalah konsistensi koordinasi yang sebelumnya telah dibangun dan adanya instruksi untuk melibatkan APRI dalam penanganan pertambangan di Hulawa.

“Kami tetap siap membantu pemerintah. Tetapi kerja sama itu harus dibangun dengan komunikasi, koordinasi, dan saling menghargai,” pungkasnya.

Bagikan:   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *