Roy Ahmad Bantah Keras Pernyataan Ketua GMNI Gorut, Sebut Tak Berimbang dan Tendensius

ANTERONESIA.ID, GORUT — Polemik pengurangan anggaran Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada 2024 di Gorontalo Utara (Gorut) terus bergulir.

Terbaru, Roy Ahmad, aktivis Gorut yang juga kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), angkat suara membantah pernyataan Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Gorut, Jeyk Uno, yang dinilainya tendensius dan tidak berimbang.

Roy menyoroti sikap GMNI yang hanya fokus pada penggunaan dana hibah Bawaslu Gorut sebesar Rp. 7 miliar dengan sisa Rp. 500 juta, namun mengabaikan dana hibah KPUD Gorut senilai Rp. 17,4 miliar yang kini hanya menyisakan Rp. 100 jutaan.

“Pernyataan GMNI d terkesan mencari-cari kesalahan Bawaslu dan tidak adil karena tidak menyoroti penggunaan dana di KPUD yang justru lebih besar,” tegas Roy, Kamis (13/3).

Lebih jauh, Roy mengingatkan bahwa pelaksanaan PSU merupakan perintah Mahkamah Konstitusi (MK) yang bersifat final dan mengikat.

Ia menolak anggapan bahwa PSU adalah hukuman bagi penyelenggara pemilu, baik KPU maupun Bawaslu.

“PSU adalah keputusan hukum yang harus dijalankan, bukan alat untuk menyalahkan pihak tertentu,” ujar Roy.

Terkait pengaktifan kembali Ridwan Yasin sebagai calon bupati, Roy menjelaskan bahwa keputusan Bawaslu dan KPU didasarkan pada aturan hukum yang berlaku saat itu.

“Saat itu, PKPU hanya mengatur larangan bagi terpidana dengan hukuman 5 tahun ke atas. Baru setelah putusan MK Nomor 55/PHPU.BUN/XXIII/2025, ada norma yang mengatur tentang terpidana percobaan,” terang Roy.

Ia pun mengkritik sikap GMNI yang dinilainya gegabah dan emosional dalam menyikapi persoalan PSU.

Roy berharap organisasi mahasiswa lebih mengedepankan kajian ilmiah ketimbang memperkeruh suasana.

“Sebagai mahasiswa, seharusnya GMNI menggelar diskusi terbuka, mengundang KPU, Bawaslu, dan pihak terkait untuk mencari solusi. Jangan justru membuat suasana panas seolah Gorut akan kiamat karena PSU,” sindirnya.

Di akhir keterangannya, Roy mengajak semua pihak untuk menjaga suasana kondusif dan mendukung proses demokrasi dengan kepala dingin.

“Kita harus mengedepankan dialog dan transparansi, bukan saling menyudutkan. Mari kita cari solusi bersama demi Gorut,” tutup Roy.

Bagikan:   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *