ANTERONESIA.ID|GORONTALO UTARA — Ketua Komite SDN 16 Kwandang, Syamsudin Amir, membenarkan adanya penggantian sejumlah material kayu dalam pekerjaan revitalisasi sekolah tersebut. Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti soal pencatatan penggunaan kayu yang disebut bernilai nol dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Syamsudin menjelaskan, komite memang dilibatkan dalam kegiatan revitalisasi, tetapi tidak duduk dalam kepanitiaan. Posisi komite, kata dia, murni menjalankan fungsi pengawasan terhadap jalannya pekerjaan.
“Kalau komite itu tidak masuk dalam kepanitiaan, tapi masuk dalam pengawasan,” ujar Syamsudin saat dikonfirmasi awak media, Kamis (10/9).
Sebagai pengawas, Syamsudin mengaku rutin memantau perkembangan pekerjaan. Lokasi rumahnya yang tak jauh dari sekolah memudahkannya melihat langsung aktivitas di lapangan.
“Rumah saya ini dekat sekali dengan sekolah,” katanya.
Selain mengamati dari sekitar rumah, Syamsudin juga kerap mendatangi sekolah untuk meninjau pekerjaan yang sedang berlangsung. Berdasarkan pengamatannya, ia menilai revitalisasi sejauh ini berjalan sesuai dengan pekerjaan di lapangan.
“Kalau saya lihat memang sudah sesuai pekerjaan,” ucapnya.
Syamsudin menambahkan, pihak komite turut dilibatkan dalam sejumlah rapat terkait pelaksanaan revitalisasi. Namun, ketika ditanya soal penggunaan kayu dalam RAB—khususnya informasi bahwa pos tersebut tercatat nol—ia mengaku tidak mengetahuinya secara pasti.
“Kalau untuk mereka mengatakan itu nol, itu yang saya tidak tahu,” ujarnya.
Kendati demikian, Syamsudin menyatakan dirinya melihat adanya kayu yang diganti selama pekerjaan berlangsung. Menurutnya, kayu lama yang sudah lapuk atau tidak layak memang perlu diganti, sementara kayu yang masih berkondisi baik dapat tetap digunakan.
“Memang saya lihat kayu-kayu itu yang digunakan adalah kayu yang sudah lama. Yang biasanya ada yang sudah lapuk itu, itu yang diganti,” jelasnya.
Saat ditanya kembali apakah benar ada penggantian kayu di lokasi, Syamsudin membenarkannya.
“Ada kayu yang diganti di situ,” tegasnya.
Ia juga menyebut melihat material yang tampak baru di area pekerjaan. Namun, Syamsudin tidak bisa memastikan apakah seluruh material tersebut merupakan kayu baru yang memang dibeli untuk revitalisasi.
“Kalau saya lihat, ada juga yang baru di situ,” katanya.
Menurut Syamsudin, masih ada kemungkinan kayu lama yang kondisinya masih bagus dipakai kembali. Karena itu, ia enggan menyimpulkan bahwa semua kayu yang terlihat baru merupakan material yang baru dibeli.
“Jangan sampai kayu yang sudah lama, tapi dia masih bagus,” ujarnya.
Soal penyusunan RAB, Syamsudin mengaku dirinya memang dilibatkan oleh pihak sekolah. Namun, ia belum memahami secara rinci mengenai pencantuman penggunaan kayu yang disebut bernilai nol dalam dokumen tersebut.
“Sebenarnya saya dilibatkan. Tapi untuk misalnya dalam penyusunan RAB itu, kalau misalnya itu dikatakan nol, itu yang saya tidak terlalu tahu,” katanya.
Syamsudin menilai perlu meninjau kembali dokumen RAB untuk memastikan bagaimana penggunaan maupun penggantian kayu tercantum dalam perencanaan pekerjaan.
Sebagai Ketua Komite sekaligus pihak yang menjalankan fungsi pengawasan, Syamsudin menegaskan pengawasan terhadap pekerjaan tetap dilakukan selama revitalisasi berlangsung. Ia menilai keberadaan komite penting untuk memastikan pekerjaan di sekolah benar-benar memberi manfaat bagi siswa dan lingkungan sekolah.
“Ini dijaga baik-baik karena pemanfaatan ini adalah kita, siswa kita yang ada di sini,” pungkasnya.
Hingga pekerjaan berjalan, Syamsudin menegaskan apa yang diketahuinya adalah adanya kayu yang diganti di lapangan. Sementara mengenai apakah penggunaan kayu tersebut sudah tercantum dalam RAB dan bagaimana mekanisme penganggarannya, ia mengaku belum mengetahuinya secara pasti.







