Ridwan Monoarfa
Sekretaris DPW Partai NasDem Provinsi Gorontalo
ANTERONESIA.ID- Empat puluh hari setelah kepergian Rachmat Gobel pada 10 Juli 2026, yang paling layak dikenang bukan sekadar sosoknya, melainkan nilai-nilai yang ia tinggalkan. Di tengah rendahnya kepercayaan publik terhadap politik, kepergian seorang tokoh seharusnya menjadi momentum untuk bertanya: pelajaran apa yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya?
Bagi saya, jawaban atas pertanyaan itu lahir dari perjalanan panjang mengenal beliau, bukan hanya sebagai pemimpin politik atau pengusaha, tetapi juga sebagai guru kehidupan. Dari beliau saya belajar bahwa politik tidak harus menjadi ruang perebutan kekuasaan semata. Politik dapat menjadi jalan pengabdian apabila dijalankan dengan keikhlasan, visi, dan keberpihakan kepada rakyat.
Pelajaran itu terasa sangat berarti karena saya datang dari dunia yang berbeda. Hampir seperempat abad hidup saya ditempa sebagai aktivis gerakan buruh. Dunia itu mengajarkan keberanian memperjuangkan keadilan, membela hak-hak pekerja, serta meyakini bahwa negara harus berpihak kepada mereka yang lemah.
Karena itu, ketika memutuskan memasuki dunia politik, saya membawa keraguan. Masih mungkinkah politik menjadi jalan pengabdian di tengah citranya sebagai arena yang sering dipenuhi pragmatisme dan perebutan kepentingan?
Keraguan itu saya sampaikan kepada Rachmat Gobel pada awal kebersamaan kami memulai pengabdian di Gorontalo melalui Partai NasDem pada 2016.
Saya bertanya, apa yang mendorong seorang pengusaha yang telah mencapai puncak keberhasilan memilih memasuki dunia politik?
Beliau menjawab dengan tenang. Hampir empat puluh tahun hidupnya dihabiskan bekerja antara Indonesia dan Jepang. Ia merasa telah berkecukupan dan masih diberi kesehatan. Tidak ada lagi yang harus dikejar untuk kepentingan pribadi. Yang tersisa adalah menuntaskan amanah almarhum ayahandanya, Thayeb Mohammad Gobel, dan mewakafkan sisa usia untuk membangun Gorontalo.
Ia kemudian mengingat pesan ayahandanya yang kurang lebih berbunyi:
“Teni, kamu saya sekolahkan di luar negeri. Kelak ilmu dan uang yang kamu peroleh bawa pulang ke Gorontalo, bukan sebaliknya, modal dari Gorontalo kamu bawa kembali ke Jakarta.”
Pesan itu bagi saya bukan sekadar nasihat seorang ayah kepada anaknya. Di dalamnya terkandung etika pengabdian: apa yang diperoleh dari luar harus dibawa pulang untuk membangun tanah asal leluhur, bukan mengambil modal dari daerah untuk kepentingan diri sendiri di tempat lain. Barangkali inilah salah satu akar yang menjelaskan mengapa Rachmat Gobel, setelah mencapai keberhasilan dalam dunia usaha, memilih memberikan waktu, pikiran, tenaga, jaringan, dan sumber dayanya untuk Gorontalo.
Jawaban sederhana itu mengubah cara pandang saya terhadap politik.
Namun, Rachmat Gobel kemudian mengatakan kepada saya bahwa ada hal lain yang semakin meyakinkannya bahwa politik harus ditempatkan sebagai jalan pengabdian.
“Ridwan, di samping itu, saya benar-benar terjun ke politik karena terpanggil jiwa saya oleh pesan pidato Pak Surya Paloh,” katanya.
Ketua Umum Partai NasDem itu, menurut Rachmat, menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang tanggung jawab kebangsaan: musuh bangsa Indonesia bukanlah sesama anak bangsa, melainkan kemiskinan dan kebodohan.
Pesan tersebut memperlihatkan kepada saya bahwa politik, dalam pandangan Rachmat Gobel, harus memiliki tujuan yang lebih mendasar daripada sekadar memperoleh jabatan atau kekuasaan. Politik harus menjadi instrumen untuk menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan rakyat.
Dari sana saya semakin memahami bahwa keputusan memasuki politik tidak selalu lahir dari ambisi untuk berkuasa. Ada pula orang yang masuk politik justru karena ingin memberikan sesuatu. Di tangan orang yang tepat, kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana menghadirkan kemaslahatan.
Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: kepada siapa pengabdian itu diarahkan?
Jawabannya saya temukan dari cerita Rachmat Gobel tentang perjalanannya menyusuri berbagai wilayah di Gorontalo.
Beliau mengakui bahwa sebelum terjun ke dunia politik, dirinya belum benar-benar memahami wajah kemiskinan yang dihadapi masyarakat. Dalam sebuah perjalanan bersama Rum Pagau, yang kini menjadi Bupati Boalemo, beliau melihat langsung rumah-rumah sederhana yang dihuni beberapa kepala keluarga dalam keterbatasan ekonomi.
Pengalaman itu mengguncang batinnya. “Ini kemiskinan,” gumamnya.
Sejak saat itu, menurut beliau, pembangunan tidak boleh hanya dipahami sebagai pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus menjadi jalan membangun kemandirian masyarakat. Gorontalo memiliki sumber daya alam yang melimpah. Yang diperlukan adalah kepemimpinan yang berkualitas, tata kelola pemerintahan yang bersih, kesungguhan, dan keberanian mengubah potensi menjadi kesejahteraan yang nyata.
Dari situ saya belajar bahwa seorang politisi tidak cukup memahami rakyat melalui laporan statistik dan angka kemiskinan. Ia harus hadir, melihat, mendengar, dan merasakan sendiri kehidupan masyarakat. Empati tidak lahir dari ruang rapat, tetapi dari perjumpaan dengan rakyat
Pelajaran lain yang membekas dalam ingatan saya adalah cara beliau memandang pembangunan.
Suatu ketika beliau bertanya kepada saya: di mana anak-anak Gorontalo dapat bermain dengan aman dan nyaman bersama keluarganya? Di mana para orang tua dapat menikmati masa senja dengan tenang dan bermartabat?
Saya terdiam.
Pertanyaan itu bukan tentang strategi memenangkan pemilu atau meningkatkan elektabilitas. Pertanyaan itu menyentuh hakikat pembangunan yang sesungguhnya: memanusiakan manusia.
Beliau meyakini bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur. Kemajuan juga harus tercermin dari kualitas hidup masyarakat: anak-anak yang tumbuh dengan baik, keluarga yang memiliki ruang untuk berkumpul, serta para lanjut usia yang dapat menikmati masa senja dengan tenang dan bermartabat.
Cara berpikir seperti itulah yang kemudian mendorong berbagai ikhtiar untuk menghadirkan ruang publik dan program yang berorientasi pada kualitas hidup masyarakat. Saya melihat pembangunan yang beliau bayangkan bukan sekadar membangun fisik, tetapi membangun peradaban.
Dari manusia, pikiran Rachmat Gobel kemudian bergerak kepada masa depan daerah.
Sebagai seorang pelaku usaha yang memahami ekonomi, beliau memiliki pandangan jauh ke depan mengenai masa depan Gorontalo. Beliau sering mengatakan bahwa kekuatan daerah ini berada di desa.
Setiap desa, menurutnya, harus memiliki identitas ekonomi yang bertumpu pada potensi lokal, baik pertanian, perkebunan, perikanan, maupun industri kreatif. Desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, melainkan harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menghasilkan nilai tambah.
Karena itu, perhatiannya terhadap pengembangan Pelabuhan Anggrek dan gagasan membangun kawasan ekonomi berbasis potensi daerah bukan sekadar soal infrastruktur. Di dalamnya terdapat cara pandang tentang bagaimana Gorontalo membangun rantai pasok baru, menghubungkan sentra produksi dengan pasar, dan membuka jalan bagi daerah untuk masuk ke jaringan perdagangan yang lebih luas.
Visinya sederhana, tetapi sekaligus menjawab tantangan Gorontalo ke depan: Gorontalo tidak boleh selamanya menjadi pengekspor bahan mentah. Komoditas daerah harus semakin banyak diolah di tanah sendiri, melahirkan industri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di situlah saya memahami bahwa politik bukan hanya tentang memenangkan pemilu lima tahunan. Politik adalah tentang menyiapkan masa depan puluhan tahun ke depan.
Empat puluh hari setelah kepergian beliau, saya semakin menyadari bahwa warisan terbesar seorang politisi bukanlah jabatan yang pernah disandang, melainkan gagasan yang tetap hidup setelah ia tiada.
Jabatan memiliki batas waktu. Kekuasaan memiliki batas masa. Tetapi nilai, gagasan, dan keteladanan dapat melampaui zaman apabila diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah kehidupan politik yang sering dipenuhi sinisme, masyarakat membutuhkan lebih banyak teladan yang membuktikan bahwa kekuasaan dapat dijalankan dengan amanah dan pengabdian. Politik akan kembali memperoleh kehormatannya apabila para pelakunya menjadikan kepentingan rakyat sebagai tujuan utama, bukan menjadikan rakyat sekadar jalan untuk meraih kekuasaan.
Bagi saya pribadi, Rachmat Gobel bukan sekadar seorang pemimpin politik. Beliau adalah guru yang menunjukkan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga dari apa yang berhasil diwariskan kepada masyarakat.
Ia mengajarkan kepada saya bahwa politik dapat menjadi jalan pengabdian. Bahwa kekuasaan dapat menjadi alat untuk menghadirkan kemaslahatan. Bahwa pembangunan harus berujung pada martabat manusia. Dan bahwa seorang anak bangsa, sebesar apa pun keberhasilan yang telah dicapainya, pada akhirnya harus bertanya: apa yang telah saya kembalikan kepada tanah tempat saya berasal?
Pertanyaan itulah yang kini, setelah empat puluh hari kepergian beliau, terasa semakin menjadi tanggung jawab kami yang ditinggalkan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik bersama orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
Selamat jalan menuju alam barzakh, Kakak Rachmat Gobel.
Engkau telah menuntaskan bagianmu dalam sejarah dan boleh jadi telah melampaui kewajibanmu. Kini menjadi tanggung jawab kami yang ditinggalkan untuk menjaga, melanjutkan, dan mewujudkan cita-cita yang engkau titipkan, agar Gorontalo benar-benar tumbuh sebagai daerah yang maju, mandiri, adil, dan bermartabat.







