Kasus Berulang di SPPG Popalo, Menu Ikan Diduga Tak Layak Konsumsi

ANTERONESIA.ID|GORONTALO UTARA— Sorotan terhadap kualitas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Popalo, Kabupaten Gorontalo Utara, kembali mencuat. Kali ini, menu ikan yang didistribusikan kepada siswa diduga tidak layak dikonsumsi karena menimbulkan rasa gatal dan mengeluarkan aroma menyengat.

Keluhan tersebut menambah daftar persoalan terkait kualitas menu MBG yang sebelumnya juga sempat menjadi perhatian publik beberapa bulan lalu. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan mutu makanan, standar keamanan pangan, serta prosedur pemeriksaan menu sebelum didistribusikan kepada para siswa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun ANTERONESIA.ID, menu ikan yang diterima salah satu sekolah dilaporkan memiliki kualitas yang diragukan. Seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa ikan tersebut menimbulkan rasa gatal saat dicicipi sehingga menu itu diputuskan untuk tidak dikonsumsi.

“Setelah dicoba dicicipi, ikannya gatal dan tidak layak dikonsumsi oleh anak, sehingga menu dikembalikan,” ungkap sumber tersebut.

Keluhan serupa juga disampaikan Silpana Tolinggi, salah satu Person in Charge (PIC) program MBG di salah satu sekolah di Kecamatan Anggrek. Ia mengaku sebelumnya dihubungi pihak SPPG yang menginformasikan bahwa ikan dalam menu MBG memiliki aroma agak menyengat.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Silpana meminta dua orang guru dan orang tua yang mendampingi siswa untuk mencicipi menu ikan tersebut. Hasilnya, mereka juga merasakan hal yang sama.

“Pihak SPPG mengonfirmasi ke saya kalau ikannya agak menyengat. Jadi, saya minta dua orang guru dan orang tua yang mendampingi anak-anak untuk mencobanya, dan ternyata hasilnya sama,” kata Silpana.

Atas pertimbangan tersebut, Silpana memutuskan untuk tidak menyalurkan menu ikan itu kepada siswa. Ia kemudian meminta pihak SPPG menarik kembali makanan yang dinilai bermasalah tersebut.

“Saya pun langsung memberi tahu pihak MBG mengenai hal tersebut agar MBG-nya ditarik dan tidak disalurkan,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai petugas SPPG yang menghubunginya terkait kondisi ikan tersebut, Silpana memilih tidak memberikan keterangan lebih lanjut.

“Untuk terkait hal ini saya tidak akan menjawab, Pak,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Popalo, Wiwan Anyole, belum memberikan penjelasan mengenai dugaan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan investigasi dan telah mengambil langkah pencegahan.

“Sembari kami melakukan investigasi atas dugaan tersebut, sebagai langkah pencegahan terhadap kemungkinan risiko keamanan pangan, SPPG telah menarik kembali MBG yang disalurkan dan menghentikan sementara seluruh pendistribusian hari ini,” Ujar Wiwan.

Langkah penarikan makanan dan penghentian sementara distribusi tersebut menjadi perhatian penting, mengingat program MBG menyasar anak-anak usia sekolah yang membutuhkan makanan bergizi sekaligus aman untuk dikonsumsi.

Meski demikian, dugaan penurunan kualitas ikan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya. Investigasi diperlukan guna mengetahui apakah kondisi makanan berkaitan dengan proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, atau faktor lain yang memengaruhi keamanan pangan.

Sorotan terhadap SPPG Popalo kali ini bukan yang pertama. Beberapa bulan sebelumnya, kualitas menu MBG dari satuan pelayanan tersebut juga sempat menjadi perhatian publik.

Berulangnya keluhan mengenai kualitas makanan menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pemeriksaan makanan, hingga SOP pendistribusian.

Hingga berita ini ditayangkan, SPPG Popalo masih melakukan investigasi terkait dugaan tersebut. Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak SPPG Popalo maupun instansi terkait untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan lebih lanjut.

Bagikan:   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *