Aktivis Nilai Program G 2 10 Hanya Sebatas Wacana, Usulkan Inovasi Baper dan Caper

ANTERONESIA.ID, GORONTALO UTARA – Program G 2 10 yang digagas pemerintah sebagai bagian dari ketahanan pangan dinilai belum menyentuh substansi. Aktivis Indra Rohandi Parinding menilai program tersebut berpotensi hanya menjadi wacana atau sekadar pemenuhan target 100 hari kerja.

Menurut Indra, pola peningkatan ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan dalam G 2 10 masih sebatas ajakan tanpa disertai sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Ia menilai program ini rawan berhenti di tengah jalan dan tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat.

“Kalau soal beternak ayam, hampir seluruh rumah tangga di desa sudah memiliki ayam peliharaan, bahkan ada yang sudah beternak kambing. Namun, yang kurang diperhatikan adalah bagaimana meningkatkan minat masyarakat untuk mengembangkan peternakan, termasuk aspek kesehatan hewan ternaknya. Karena itu, G 2 10 saya khawatir hanya sebatas program 100 hari kerja,” ujar Indra. Sabtu(06/09/2025)

Sebagai solusi, Indra mendorong peran Dinas Peternakan untuk menghadirkan tenaga profesional dan mencanangkan inovasi berupa Baper (Bakal Peternak) dan Caper (Call Peternakan). Program ini, menurutnya, dapat mendorong minat masyarakat untuk bergerak bersama dalam menyukseskan G 2 10, sekaligus menjawab persoalan klasik seperti wabah penyakit hewan.

“Melalui Baper dan Caper, pemerintah bisa menyiapkan wadah bagi masyarakat untuk berkonsultasi terkait kesehatan hewan ternak. Situs khusus juga bisa dibangun untuk menjadi acuan data kesehatan hewan, sehingga Caper berfungsi sebagai mitigasi sekaligus solusi penanggulangan penyakit ternak secara langsung,” tutur Indra.

Ia menambahkan, Baper dan Caper bisa menjadi pintu masuk bagi program vaksinasi ternak, penanggulangan wabah, pemberian vitamin, hingga diskusi rutin bersama masyarakat. Dengan begitu, pencapaian G 2 10 tidak sebatas simbolis, melainkan benar-benar memberikan dampak nyata.

“Saya berharap OPD terkait benar-benar menuntaskan program ini sampai ke akar. Dengan dukungan tenaga profesional seperti dokter hewan dan mantri peternakan, program ini bisa berjalan optimal dan bahkan berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah melalui vaksinasi serta bimbingan pola beternak yang baik,” tambahnya.

Indra menegaskan, Caper nantinya juga dapat menjadi sarana komunikasi intens antara masyarakat dan pemerintah. Dengan demikian, keluhan seperti ayam mati mendadak atau penyakit kambing bisa segera ditangani, sehingga minat masyarakat dalam program G 2 10 dapat tumbuh dan memberi kesan positif yang berkelanjutan.

Bagikan:   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *