Oleh :
Indra Rohandi Parinding
ANTERONESIA.ID, OPINI – Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah hasil pengorbanan luar biasa para pejuang yang rela menyerahkan jiwa dan raga demi tegaknya kedaulatan. Mereka melawan penjajah asing yang kasat mata, yang menindas dan merampas hak-hak bangsa. Namun, setelah 79 tahun merdeka, pertanyaan besar muncul sudahkah kita benar-benar merdeka?
Fakta di lapangan menunjukkan, penjajahan kini tidak selalu datang dari bangsa asing. Ironisnya, “penjajahan gaya baru” justru hadir dari dalam negeri sendiri. Korupsi merajalela, kekuasaan disalahgunakan, rakyat kecil dikorbankan demi kepentingan elit, dan kesenjangan sosial semakin menganga. Apakah ini yang dimaksud kemerdekaan? Bagaimana mungkin bangsa yang pernah bersatu mengusir penjajah asing, kini dibiarkan terbelah oleh kepentingan politik yang menguntungkan segelintir orang?
Lebih baik melawan musuh yang nyata di hadapan kita daripada menghadapi pengkhianatan dari saudara sebangsa. Kini rakyat dihadapkan pada fenomena “musuh dalam selimut”, yaitu mereka yang mengaku berjuang demi bangsa, namun diam-diam menindas dan menjajah bangsanya sendiri. Kondisi ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan penderitaan di masa kolonial, sebab datang dari darah dan tanah yang sama.
Peringatan 17 Agustus sering kali terjebak pada rutinitas formal: upacara bendera, hiasan, lomba, dan pesta rakyat. Padahal, yang lebih penting adalah menghidupkan kembali nilai keberanian, kejujuran, dan pengorbanan yang diwariskan para pahlawan. Tanpa itu, kemerdekaan hanya menjadi slogan kosong, sementara rakyat terus terjajah oleh praktik busuk yang dilakukan oleh bangsa sendiri.
Generasi muda harus mengambil peran nyata. Mereka tidak boleh sekadar menjadi “penikmat sejarah”, tetapi harus tampil sebagai pelanjut perjuangan. Musuh kita hari ini bukan lagi tentara kolonial bersenjata, melainkan keserakahan, kemunafikan, dan kebijakan yang memiskinkan rakyat. Melawan penjajahan model baru ini membutuhkan keberanian moral, keteguhan sikap, dan konsistensi memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Kemerdekaan sejati hanya akan terwujud jika bangsa ini bebas dari segala bentuk penindasan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri. Jika tidak, maka kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan hanya akan menjadi perayaan tahunan tanpa makna.







