Oleh: Frengky Biki
Pemuda Gorontalo
ANTERONESIA.ID, OPINI – Provinsi Gorontalo tengah bersolek. Dalam hitungan hari, ribuan petani, nelayan, penyuluh, dan tamu dari seluruh Indonesia akan memadati daerah ini dalam rangka Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) 2026. Hotel-hotel mulai penuh, berbagai fasilitas dipersiapkan, dan masyarakat menyambut agenda nasional yang rencananya akan dihadiri Presiden Republik Indonesia beserta sejumlah menteri.
Di atas kertas, ini merupakan sebuah kebanggaan. Tidak semua daerah mendapat kehormatan menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional. PENAS seharusnya menjadi etalase keberhasilan sektor pertanian dan perikanan Gorontalo sekaligus momentum memperjuangkan kesejahteraan petani dan nelayan.
Namun, kebanggaan itu tidak boleh menutupi kenyataan di lapangan.
Masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan. Alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dibeli menggunakan uang rakyat seharusnya mudah diakses oleh petani melalui sistem shelter dengan tarif terjangkau. Faktanya, di berbagai tempat, alsintan justru dikuasai oleh kelompok tertentu sehingga petani kecil harus menyewa dengan biaya yang jauh lebih mahal. Negara hadir membeli alat, tetapi petani tetap kesulitan menggunakannya.
Program cetak sawah baru pun patut menjadi perhatian serius. Target ribuan hektare lahan baru tidak akan memiliki arti apabila realisasinya jauh dari harapan, terlebih lagi jika lahan yang dibuka belum ditunjang dengan sistem irigasi yang memadai. Sawah tanpa air bukanlah solusi ketahanan pangan, melainkan hanya angka di atas laporan.
Persoalan yang sama dirasakan para nelayan. Hingga hari ini, solar masih menjadi barang yang sulit diperoleh dengan harga yang wajar. Setiap kali hendak melaut, nelayan dihadapkan pada ketidakpastian. Ironisnya, ketika negara berbicara tentang peningkatan produksi perikanan, para nelayan justru masih dipusingkan dengan persoalan bahan bakar.
Pertanyaannya, untuk siapa sebenarnya PENAS ini diselenggarakan?
Apakah hanya menjadi panggung untuk menunjukkan keberhasilan pemerintah? Ataukah benar-benar menjadi forum untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini membelenggu petani dan nelayan?
Jangan sampai PENAS hanya menjadi pesta seremonial yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah. Spanduk akan dicopot, panggung akan dibongkar, tamu-tamu akan kembali ke daerah masing-masing. Tetapi jika petani masih kesulitan mendapatkan alsintan, sawah baru belum bisa ditanami, pupuk masih langka, dan nelayan masih antre mencari solar, maka yang tersisa hanyalah dokumentasi kegiatan, bukan perubahan.
Petani dan nelayan tidak membutuhkan seremoni. Mereka membutuhkan keberpihakan.
Mereka membutuhkan kebijakan yang berpihak pada produksi, akses terhadap alat pertanian yang adil, jaminan ketersediaan pupuk dan BBM, irigasi yang berfungsi, harga hasil panen yang menguntungkan, hingga perlindungan ketika gagal panen maupun saat cuaca buruk menghalangi nelayan melaut.
Kehadiran Presiden dan para menteri seharusnya menjadi kesempatan emas bagi Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk menyampaikan kondisi sebenarnya, bukan sekadar mempertontonkan sisi yang indah. Pemimpin negara perlu melihat langsung apa yang masih menjadi keluhan masyarakat agar kebijakan yang lahir benar-benar menjawab persoalan.
Keberhasilan sebuah PENAS tidak diukur dari ramainya peserta, megahnya panggung, atau banyaknya pejabat yang hadir. Keberhasilan sejati diukur dari apa yang berubah setelah acara usai. Apakah pendapatan petani meningkat? Apakah nelayan lebih mudah mendapatkan solar? Apakah alsintan benar-benar dinikmati petani? Apakah sawah yang dicetak benar-benar menghasilkan panen?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih “belum”, maka PENAS belum mencapai tujuan hakikinya.
PENAS 2026 harus menjadi titik balik lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada petani dan nelayan. Sebab, mereka tidak membutuhkan janji baru, melainkan bukti nyata bahwa negara hadir untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Jika tidak mampu menghadirkan perubahan, maka semegah apa pun penyelenggaraan PENAS, sejarah hanya akan mencatatnya sebagai pesta yang meriah, tetapi gagal menjawab penderitaan petani dan nelayan.







