ANTERONESIA.ID, GORONTALO – Kepala Puskesmas Buhu, Hariyanti Harun Hunggu, memberikan klarifikasi terkait keluhan keluarga pasien kecelakaan lalu lintas yang sebelumnya menyoroti pelayanan di Puskesmas Buhu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.
Hariyanti menjelaskan bahwa pasien korban kecelakaan datang ke Puskesmas Buhu sekitar pukul 22.45 Wita untuk mendapatkan penanganan medis awal. Menurutnya, pihak puskesmas langsung melakukan tindakan penanganan sesuai prosedur medis guna menstabilkan kondisi pasien sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Ia menerangkan bahwa Puskesmas Buhu memang memiliki dua unit ambulans. Namun, salah satu kendaraan dalam kondisi rusak karena mengalami kerusakan pada bagian power steering sehingga tidak dapat digunakan.
“Saya mau klarifikasi ya pak, memang Puskesmas Buhu memiliki dua ambulans. Yang satu memang dalam keadaan rusak, power steering-nya rusak. Jadi yang standby hanya mobil APV,” ujar Hariyanti. Sabtu (23/05/2026)
Karena pada saat bersamaan terdapat dua pasien yang membutuhkan rujukan, pihak puskesmas kemudian meminta bantuan ambulans dari Puskesmas Tibawa.
“Nah, berhubung pasien ada dua, jadi kami meminta pertolongan ke Puskesmas Tibawa,” jelasnya.
Terkait tudingan bahwa ambulans tidak langsung digunakan karena alasan tidak memiliki solar, Hariyanti mengaku pihak perawat kemungkinan tidak memahami kondisi teknis dan maintenance kendaraan ambulans.
“Kalau memang ada yang menyampaikan seperti itu, kemungkinan perawat tidak terlalu mengetahui soal maintenance ambulans tersebut. Karena memang satu mobil dalam keadaan rusak,” katanya.
Hariyanti juga membantah anggapan bahwa pasien sengaja ditahan untuk menunggu ambulans lainnya. Menurutnya, proses rujukan harus mengikuti mekanisme Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute) sebelum pasien dibawa ke rumah sakit tujuan.
“Untuk merujuk ke rumah sakit ada sistemnya pak, kami harus mengisi Sisrute terlebih dahulu dan menunggu konfirmasi dari rumah sakit tujuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mekanisme tersebut dilakukan agar rumah sakit yang dituju benar-benar siap menerima pasien, baik dari sisi ketersediaan dokter maupun fasilitas penunjang medis.
“Jangan sampai kami merujuk pasien, ternyata rumah sakit penuh atau dokter penanganannya tidak ada. Makanya kami harus menggunakan sistem Sisrute,” tambahnya.
Saat ditanya apakah mekanisme tersebut juga berlaku untuk pasien gawat darurat korban kecelakaan, Hariyanti menegaskan bahwa sistem itu memang telah lama diterapkan dalam proses rujukan pasien.
Selain itu, Hariyanti turut memberikan klarifikasi terkait tudingan adanya keluarga pasien kecelakaan yang diminta membersihkan kotoran pasien lain di ruang pelayanan.
Menurutnya, kejadian sebenarnya adalah seorang pasien rawat inap terjatuh di depan ruangan saat hendak menuju toilet. Karena keluarga pasien tersebut hanya terdiri dari dua perempuan, termasuk seorang lanjut usia, perawat kemudian meminta bantuan orang di sekitar untuk membantu mengangkat pasien kembali ke tempat tidur.
“Tidak seperti itu pak. Perawat hanya meminta tolong untuk membantu mengangkat pasien tersebut ke tempat tidur, bukan meminta membersihkan kotoran pasien,” jelasnya.
Ia menegaskan pihak Puskesmas Buhu tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada seluruh pasien sesuai kemampuan dan prosedur yang berlaku.













